Bergantung dengan Sarang Laba-Laba

Bergantung dengan sarang laba-laba

Selalu menyemai harap di tanah makhluk….
Akhirnya kekecewaan jua yang kita tuai.

Kita selalu merajut renda kepercayaan pada harta, dan kedudukan…seolah ialah segalanya yang akan membuat kita berjaya meraih mimpi-mimpi.
Namun akhirnya…berkali-kali kita mengurai penyesalan di patahan-patahan asa.

Ladang-ladang tandus yang terlihat subur dalam fatamorgana anak manusia…
Itu yang kita garap dan jadikan tempat bergantung.

Lipatan-lipatan waktu jua akhirnya yang mengajarkan pada kita tentang pahitnya kegagalan, menanti panen yang tak kunjung datang.

Buhul kuat yang menghujam dari bumi ke langit…itu yang kita abaikan dan tinggalkan.
Sementara rapuhnya sarang laba-laba…itulah yang kita harapkan.

Jatuh bangun tubuh ini meniti titian yang rapuh untuk tempat berpijak…
Namun kita tetap paksa menapakinya….
Sementara jembatan baja yang maha kuat kita abaikan dan tinggalkan.

Aduhai…
Mengapalah kita selalu berharap pada sesuatu yang tidak jelas, lupa berharap pada Zat yang tidak pernah mengcewakan.

Aduhai…
Mengapa kita tidak pernah jera bergantung dengan rumah laba-laba yang rapuh..untuk kembali jatuh dan terjerembab di jalan kecewa..?

Aceh Barat Daya, 9 Ramadhan 1436/ 26 Juni 2015.

Abu Fairuz