Ada Apa Dengan Musholla Blok Q

ADA APA DENGAN MUSHOLLA BLOK Q batamindo

Bagi para ikhwan dan akhwat lama, Musholla Miftahul Jannah memiliki kenangan spesial yang sulit dilupakan.

Musholla itu tidaklah besar dan luas, ia kecil bahkan tak memiliki toliet. Tempat wudhunya hanya sekedarnya saja, sangat sederhana sekali. Namun siapa sangka dari tempat kecil itulah banyak para karyawan/karyawati mulai mengenal kajian salaf.

Walaupun jamaah pengajiannya tak sebanyak jamaah masjid besar Nurul Islam, namun orang yang datang konsisten dengan kajian rutin dan setiap hari , ada saja jamaah baru yang bertambah.

Di musholla mungil itulah tersimpan berjuta kenangan manis yang tak dapat dilupakan. Di sana kami belajar banyak materi tafsir, tauhid, manhaj bahkan sampai menamatkan beberapa buku yang di kaji, sebut saja kajian tafsir Ibnu Katsir, kajian Tauhid Fathul Majid, kajian Manhaj Syarhus Sunnah maupun Al Ajwibah almufidah dan beberap kitab kecil semacam Rifqan ahlas sunnah.

Para jamaah kebanyakan penghuni dormitory sekitar musholla, namun banyak juga yang datang dari tempat yang jauh seperti Batuaji, Batam Center, Tanjung Piayu dll, bahkan ada salah seorang ikhwan yang rutin mengikuti kajian berspeda dari perumahan Ruli Simpang Bas Camp yang selalu hadir.

Kami sendiri kala itu – sebelum punya motor-selalu pergi mengaji dengan angkutan umum baik taksi gelap maupun carry flat kuning dari batu aji menuju BIP Muka Kuning, kemudian sampai di sana menyambung lagi carry yang lebih kecil sambil menunggu penumpang yang lain penuh untuk menuju blok Q.

Subhanallah…
Dari sanalah cahaya sunnah di Kota Batam menyebar, sebelum orang mengenal Masjid Sabilun Najah dengan kebesarannya.

Dari Musholla itu pulalah sebagian ikhwan dan akhwat dipertemukan dalam ikatan pernikahan untuk saling mendukung berkibarnya bendera dakwah.

Jika kajian Malam di Masjid Sabilun Najah bisa mengumpulkan 400-700 jamaah, maka Musholla Miftahul Jannah paling maksimal bisa mengumpulkan 40-80 orang jamaah saja, dan itupun telah full.

Tiap kali saya mau ke toliet dan numpang wudhu , terpaksa ke dormitory terdekat menggunakan fasilitas dormitory yang kadang harus menunggu antrian penghuni aslinya.

Bila kau layangkan pandangan matamu ke sekeliling Mushollah, yang terlihat hanyalah gedung dormitory yang bertingkat-tingkat lengkap dengan atribut pakaian-pakaian luar maupun yang melambai-lambai tergantung ditiup angin.

Ah…rindu rasanya ingin sholat di sana , untuk mengenang sejarah lama, mushollah yang akhirnya kami harus terusir dan tidak diperkenankan lagi memakmurkannya dengan kajian-kajian sunnah.

Tapi dibalik setiap musibah ada hikmah, dengan sebab terusir itulah kami diberikan Allah Masjid yang lebih indah, luas dan megah bernama Masjid Sabilun Najah.

Bila di era tahun 2003-2005, kita harus grilya berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain, namun setelah tegak masjid Sabilun Najah, segala derita itupun berakhir. walhamdulillahirabbil Alamin.

Batam , 20 Syawwal 1441/ 12 Juni 2020

Abu Fairuz My